Jumat, 15 Mei 2009

Mahasiswa dan Masa Depan Indonesia


Dari mimbar ini telah dibicarakan
Pikiran-pikiran dunia
Suara-suara kebebasan
Tanpa ketakutan
Di kampus ini
Telah dipahatkan
Kemerdekaan
(Taufiq Ismail, 1966)
Mahasiswa yang dikenal sebagai educated people (kaum terpelajar) mempunyai tanggung jawab besar dalam memperbaiki bangsa ini. Gelar sebagai Agent Of Change yang disematkan padanya semestinya menjadi spirit yang selalu menggelora sepanjang masa, karena ‘change’ adalah kemutlakan dalam kehidupan ini. Namun, pertanyaannya kemana kita pergi?
Indonesia yang katanya ‘Tanah air beta’ ini tengah dihadapkan dengan beragam problematika. Krisis kepercayaan merebak ke setiap individu anak bangsa bersamaan luluhnya kejujuran, karena semakin meningkat krisis kepercayaan, maka ini indikasi semakin menurunnya kejujuran. Rakyat di negeri ini memang betul-betul diartikan sebagai rakyat, kalaupun ada yang melirik mereka, maka dapat dipastikan itulah masa-masa pilkada dan pemilu yang kata orang tua kita dulu ada udang di sebalik batu. Namun, ketika berbicara kesejahteraan dan kemakmuran – terpenuhi makan, pendidikan dan kesehatan – maka itu hanya agenda yang kesekian kali dan prioritas masa ahir jabatan agar terpilih kembali. Inilah pertanda sebuah bangsa yang menuai degredasi moral, ia manusia yang tak mengenal penderitaan manusia. Seperti yang dikatakan Titus Maccius Plantus ratusan tahun silam, “Homo Homini Lupus” (Manusia pemangsa bagi sesamanya).
Secara de jure dan de fakto kita memang merdeka dan itu telah 63 tahun lamanya 64 tepatnya Agustus 2009 besok. Penjajah tak lagi berseliweran di depan mata kita, ia tak lagi minta upeti dari jerih payah rakyat kita. Namun, ternyata yang muncul adalah ‘penjajah’ baru, matanya sama dengan mata kita, kulitnya tak berbeda dengan kita, tingginya setinggi kita, tapi ia lebih penjajah dari penjajah,. ia orang yang mau terkurung di luar, ia menggunting dalam lipatan. Reformasi yang meminta ‘tumbal’ dari perjuangan mahasiswa, sampai kini belum ada perubahan yang subtantif. Sistem pemerintahan yang berubah sentralisasi menjadi desentralisasi justru menjadi lahan subur bagi para koruptor untuk lebih leluasa mencengkramkan kukunya. Seperti yang dirangkai Sutarji Calzoum Bachri,
Tanah air kita satu
Bangsa kita satu
Bahasa kita satu
Bendera kita satu
Tapi wahai saudara satu bendera
Kenapa kini, ada sesuatu yang terasa jauh beda di antara kita?

Inilah sebagian kecil problem yang mendera bangsa ini, yang semakin hari semakin menggelinding menjelma menjadi bom waktu. Kalau mahasiswa terdiam, acuh, apalagi apriori dengan semua ini, maka ‘kutukan’ para pendahulu kita angkatan 1908, 1928, 1945, 1966, 1974, 1998 yang telah mengorbankan segenap kemampuan mereka buat keberlangsungan negeri ini lambat laun akan menimpa kita. Ia bisa berbentuk dangkalnya nasionalisme anak bangsa, pesimisme, dan kalau itu berobah menjadi apatisme, kata pahlawan reformasi Amin Rais, “Masih bisakah kita melihat masa depan kita dengan kepala tegak dan yakin diri?”
Melihat ini semua, mahasiswa yang merupakan iron stock (cadangan masa depan) harus mempersiapkan diri dan memaksimalkan potensinya. Inilah yang tergambar dalam ‘Tri Darma Perguruan Tinggi’ Selaku insan akademis ia mesti belajar dan belajar, melakukan penelitian demi penelitian hingga mempunyai spesialisasi keilmuan yang semuanya itu sangat dibutuhkan bangsa ini. Karena, salah satu indikator sebuah bangsa yang maju adalah banyaknya penelitian yang dilakukan. Kemudian mahasiswa harus terlibat dalam ragam kegiatan kampus, lewat organisasi-organisasi, karena masih banyak hal yang tidak didapatkan di ruangan kelas. Di organisasilah ia akan belajar memimpin, membangun human relation, dan ragam kegiatan lainnya. Selanjutnya mahasiswa tidak boleh menjadi ‘menara gading’ yang indah dipandang, namun sulit dijangkau. Mahasiswa mesti memasyarakat, ia tak boleh berjibaku dalam laboratorium sepanjang waktu. Maka, pengapdian pada masyarakat merupakan hal yang tak bisa ditawar dan mesti ia lakukan.
Dengan melakukan peran-perannya selaku creative minority, maka mahasiswa tengah mengoret-oret masa depannya yang juga masa Indonesia. Seperti yang dikatakan para founding fathers bangsa ini,
Kalau kalian tidak menginginkan Indonesia hilang dari peta dunia, maka cintailah ia sepenuh hati, yaitu dengan keikhlasan.”




Read More......

Sabtu, 02 Mei 2009

Selamat Jalan Mbak Intan…


“Aslm innalillahi wa inna ilaihi raji’un, telah berpulang kerahmatullah Ruwaida Mutia krn asma, mari kita doakan bersama saudari qt.

Inilah sms yang masuk ke hp saya ketika baru sekitar lima menit sampai ke Bangkinang dalam agenda dakwah. Terus terang saya terkejut, karena baru dua hari yang lalu saya dan teman-teman Forum Lingkar Pena (FLP) termasuk dia rapat di galeri Ibrahim Sattah membicarakan agenda talk show nasional, dan dia bendahara dalam kepanitiaan tersebut. Mendapat kabar tersebut saya langsung minta diantar pada akh Firdaus ke jalan raya Bangkinang untuk kembali ke Pekanbaru. Di mobil pun saya masih sibuk mengirimkan sms tersebut ke teman-teman FLP lainnya termasuk pengurus FLP pusat. Ketika saya sampai di klinik dr. Hasni sekitar pukul 11.45 orang-orang – umumnya kader dakwah – telah berjibun di sana, sehingga saya tak sempat melihat langsung jenazah beliau. Tak lama setelah itu beliau pun di boyong ke rumah neneknya untuk di mandikan dan prosesi fardu kifayah lainnya.
“Yang lain mana, Mbak?”
“Belum nampak.”
“Mbak! Ustadz minta surat itu secepatnya. Mbak Intan bisa ketikkan?”
“Kapan ane serahkan?”
“Besok pagi.”
“Di mana?”
“Di Arfaunnas.”
“Insya Allah.”
“Atau Mbak antarkan ke komsat aja, bisa!”
“O, iyalah. Insya Allah bisa.”

Setiap orang yang berjumpa/ berteman atau berorganisasi dengan Ruwaida Muthia atau akrabnya Intan Amlan tentu punya kenangan yang beragam bersamanya. Apalagi orang tua dan sanak saudaranya yang tentunya lebih banyak berinteraksi dengannya. Saya saja yang baru setahun lalu – tahun 2008 ketika muswil FLP di rumah teh Dina – mengenalnya dan kemudia sama-sama sebagai pengurus Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah riau, telah menyimpan dokumentasi kebaikannya, apalagi mereka yang telah mengenalnya lebih dahulu dari saya.
Percakapan pada tulisan ini adalah sebagian interaksi saya dengan beliau. Di FLP beliau sangat aktif, baik hadir dalam agenda syuro maupun masukan-masukan lewat telepon/sms, termasuk beberapa waktu lalu beliau sempat bilang, “Pak, ane kira tempat talk show di BPA itu nggak muat, karena biasanya peserta itu membludak pada hari H-nya.”Tidak jarang juga pada syuro yang kita agendakan ia telah hadir duluan on-time seperti yang saya temui di puswil, sementara yang lain masih belum terlihat. Namun, ia telah pergi, ya Allah telah memanggilnya sebelum ia sempat bertemu mbak Asma Nadia seperti yang ia impikan sebelumnya. Laksana Amar bin Yasir, Mus’ab bin ’Umair, Hamzah bin Abdul Muthallib, Mu’az bin Jabal dan para syuhada lainnya yang terkubur di Baqi’ sebelum sempat menyaksikan kemenangan Islam. Ia memang tak berjumpa Asma Nadia, ia tak sempat menyaksikan meriahnya acara, namun ia berjumpa dengan pemilik jagad raya Allah Swt, laiknya para syuhada yang disambut para bidadari yang bermata jeli. Semoga.
Dalam hal kepenulisan Intan telah menunjukkan eksistensinya, ia sangat mengerti makna kehidupan ini, karena hidup sesungguhnya tidak bisa dibatasi oleh usia. Boleh jadi ada orang yang berakhir hidupnya bersama tamatnya usia, atau bahkan tak dihitung hidup walaupun usia masih tersisa. Namun Intan telah keluar dari ruang tersebut, ia telah bekerja buat peradaban. Seperti dikatakan Francis Bacon, ”Manusia boleh mati, tapi ia bisa memperpanjang umurnya, jika ia meninggalkan sesuatu yang ’abadi’ yaitu sebuah karya. Karya atau monumen yang terbuat dari pengetahuan dan ke’arifan memiliki kemungkinan bertahan lebih besar dari hasil-hasil karya yang lain, semisal monumen istana, candi ataupun sebuah kota.” Terbukti dua naskah buku non fiksinya sekarang lagi digarap penerbit. Begitupun dalam naskah antologi cerita pendek FLP Riau. Beliau sebagai Humas FLP cukup concern pada amanahnya, walaupun terkadang perlu saya ingatkan untuk selalu me-update tulisan-tulisan di blog yang dikelolanya. Makanya kita di FLP betul-betul kehilangan anggota sekaligus pengurus terbaik seperti beliau.
Semoga catatan ini singkat merupakan bagian dari upaya kita untuk mengakui bahwa ia pernah ada di gelanggang kehidupan ini. Kalau dulu ketika ia lahir disambut dengan kegembiraan, maka dihari kembali kepada-Nya tidak sedikit yang berderai air mata sampai saat ia diantarkan ke tempat peristirahatan terahir.
Buat teman-teman FLP kembali kita rapatkan shaf. Banyak hal yang harus kita perbaiki ke depannya, termasuk peningkatan kualitas penulisan dan manajemen organisasi. Ukhtina Intan telah menunaikan amanahnya dengan baik, dan bagi kita kembali menyelesaikan tugas-tugas yang masih banyak harus kita sempurnakan.
Selamat jalan mbak Intan…semoga kita bertemu di ‘kafe langit’ dan ‘menulis’ buat selamanya.



































































Read More......

Goresan Kebenara


Oleh: Wamdi*

“Saat aku lelah menulis dan membaca
di atas buku-buku letakkan kepala
dan saat pipiku menyentuh sampulnya
hatiku tersengat
kewajibanku masih berjebah,
bagaimana mungkin aku bisa beristirahat?”
(Imam An-Nawawi)

Apa yang menyentak-nyentak hati mereka, sehingga tergugah mengunjungi sang guru walaupun telah berdiam di balik jeruji besi? Tiada lain selain kebenaran qaul (ucapan) dan upaya membumikannya, sehingga ia tumbuh laksana pohon yang akarnya menghujam ke bumi dan pucuknya menjulang ke langit. Kata-kata yang tak menuai pelapukan tatkala hujan dan tak mengalami kelekangan di musim panas. Ia tempat si musafir bernaung dari sengatan sang surya, payung raksasa manakala hujan. Di akarnya mereka bersila, di batangnya mereka bersandar, dan memetik buah ranum manakala lapar.
”Madza sana’mal lakum, ya ustazina? (Apa yang bisa kami lakukan untuk anda wahai guru?”
”Tolong berikan padaku arang-arang yang berserak di luar itu,” jawab sang guru dengan suara agak melemah karena diguras penyiksaan dari hari ke hari. Lewat goresan arang-arang tersebutlah lahir karya-karya monumental yang menjadi referensi bagi generasi berikutnya dan orang yang mereka panggil guru tersebut adalah Syekh Imam Ibnu Taimiyah rohimallahu.
Tradisi menulis di kalangan para ulama – tepatnya di kalangan umat Islam – bukanlah hal yang baru. Ini terlihat dari kitab-kitab yang menjadi bahan rujukan para pengajar, santri di pesantren-pesantren, universitas-universitas dan tempat pengajian lainnya. Tulisan-tulisan para ulama tersebut menjadi referensi karya ilmiah.
Lalu pertanyaannya, apa yang membuat goresan tinta mereka ’abadi’ sebagai rujukan? Jawabannya tentu keikhlasan, ya keikhlasan menuliskan kebenaran. Mereka adalah para dai yang memahami keterbatasan usia. Mengerti muhimmah (urgensi) yang dipendam dalam sebuah tulisan. Maka asimilasi keterbatasan usia dan urgensi sebuah tulisan inilah yang menggerak pribadi-pribadi mereka untuk selalu menelurkan karya yang pada akhirnya akan menetas menjadi kebenaran yang melintasi generasi, teritorial di mana mereka sendiri tak pernah hadir di sana.
Lihatlah Sayid Qutb dengan Tafsir Fi Zhilalil Qur`an dan Maalim Fit Thariqnya, HAMKA dengan tafsir Al-Azharnya. Karya-karya tersebut terlahir di balik jeruji besi. Sayid Qutb yang ditahan Gamal Abdul Nasser karena dituduh melakukan egitasi Antipemerintah, HAMKA yang dianggap sebagai penghianat pada tanah air. Namun, mari kita dengarkan apa yang dikatakan HAMKA, “Tuhan Allah rupanya menghendaki agar masa terpisah dari anak istri dua tahun, dan terpisah dari masyarakat, dapat saya pergunakan menyelesaikan pekerjaan berat ini, menafsirkan Al Qur’anul Karim. Karena kalau saya masih di luar, pekerjaan saya ini tidak akan selesai sampai saya mati. Masa terpencil dua tahun telah saya pergunakan untuk sebaik-baiknya.”
Raga mereka boleh saja disiksa, namun jiwa mereka adalah jiwa yang merdeka. Fisik mereka bisa saja dikungkung, namun nuraninya terbang sebebas-bebasnya. Jasad mereka memang didera penderitaan tiadatara, namun gagasan dan ide besar mereka telah melanglangbuana menembus selat dan benua. Seperti yang dikatakan Abdullah Azzam, “Sejarah Islam ditulis dengan hitamnya tinta ulama dan merah darahnya para syuhada.”

*Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Riau.

Read More......

Sepucuk Surat Buat Mahasiswa

Oleh: Wamdi

Kawan!

Apa kabarmu pagi ini?

Adakah jawabanmu seperti semasa kita PNDK dulu?

“Alhamdulillah! Luar biasa!”

Tegas, lugas, semangat dan penuh wibawa

Atau pagi ini kau masih tertidur

Walaupun mentari telah meninggi

Kalau kau kutanya nanti

Jawabmu,

Tadi malam belajar sampai larut malam

Kawan!

Kusarankan,

Besok malam kau letakkanlah jam weker di sampingmu

Biar jangan kau takik ilmu di kepala

Tapi tak ada aplikasi di alam nyata

Aku tau kau takut pada dosenmu

Tapi tak takutkah kau pada si Penguasa dosenmu?

O, maaf!

Cepatlah mandi

Bukankah negeri kita ini macet di sana sini

Bisa-bisa terlambat kau nanti

Bertemu dosen emosi

Kawan!

Kenapa kau tediam?

Mimpi apa sebenarnya kau semalam?

Mimpi kampus kita yang megahkah kiranya?

Yang pelayanan birokrasinya mudah?

Dengan masjid di tengah-tengahnya?

Yang berhenti aktivitas setiap waktu shalat?

Atau kau sedangkan memikirkan KHS kita yang tak siap-siap

Dengan bayaran ini, bayaran itu yang semakin meningkat

Ah, kita terlalu lembut, Kawan

Sehingga kelembutan kita dimanfaatkan

Kawan!

Sambil duduk-duduk

Kusampaikan padamu pesan pendahulu kita

angkatan ’28, ’45, ’65, 74 dan ‘98

yang ditulis Taufiq Ismail dalam puisinya ‘Salemba’

“Alma Mater, janganlah bersedih

Bila arakan ini bergerak berlahan

Menuju pemakaman

Siang ini

Anakmu yang berani

Telah tersungkur ke bumi

Ketika melawan tirani.”

Kawan!

Satu hal lagi yang ingin kuingatkan padamu,

“KITA MAHASISWA!!!”


Read More......

Sabtu, 07 Februari 2009

Catatan Sejarah 2008




“Adakah orang yang menulis sejarah hidup kita? Kalau tidak ada kenapa kita tidak menjadi wartawan bagi diri sendiri!”
• 16 Januari 2008 juara 3 lomba pidato berbahasa Arab yang ditaja HMJ jurusan Pendidikan Bahasa Aran UIN Suska Riau.
• 17 Januari 2008 juara 3 lomba pidato berbahasa Indonesia dengan tema ‘Pendidikan’ yang ditaja BEM Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau dalam rangka Muharam Fair. Judul pidato ‘Keberhasilan Pendidikan Dalam Perspektif Islam.’
• 4 Februari 2008 berhasil menambah perpustakaan KAMMI komisariat UIN Suska Riau, dengan jumlah buku 103 buah dari perpustakaan Wilayah Riau Soeman HS.
• 14 Februari 2008 mengikuti diskusi panel dengan tema ‘Problema Listrik Riau’ yang ditaja Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di hotel Sri Indrayani Pekanbaru.
• 24 Februari 2008 pemateri ‘Ahammiyah Syahadatain’ pada acara Daurah Al-Ula yang ditaja BKIM FE UNRI.
• 1 Maret 2008 mengisi perwiritan di Sukajadi.
• 1 Maret 2008 (malam) menghadiri milad HMI di hotel Mona Plaza Panam Pekanbaru.
• 2 Maret 2008 cerita pendek yang berjudul ‘Cerpen yang Tak Jadi’ dimuat di Koran harian Riau Mandiri.
• 18 Maret 2008 kunjungan ke Riau Mandiri bersama teman-teman buletin Ar-Royan UNRI.
• 20 Maret 2008 ceramah maulid Nabi di DK 2 Dalu-dalu (Rokan Hulu).
• 25 Maret 2008 menghadiri launcing 4 novel yang mendapat anugerah Bandar Serai di arena MTQ Pekanbaru.
• 30 Maret 2008 moderator pada acara temu kader Forum Mahasiswa Rokan Hulu (Formis Rohul) cabang UIN Suska, di Aula Fakultas Tarbiyah & Keguruan. Pembicara Zabarudi ST (anggota DPRD Pekanbaru)
• 12 April 2008 mengikuti diklat jurnalistik yang diadakan tabloid Visi
di Universitas Lancang Kuning (Unilak), sebagai utusan tabloid Gagasan (Tabloid mahasiswa UIN Suska) bersama Rohayati.
• 13 April 2008 mengikuti seminar daerah yang ditaja Rumpun Pemuda Pelajar dan Mahasiswa (RPPM) Rokan Hulu, di hotel Mona Plaza Pekanbaru.
• 20 Mei 2008 mendengarkan tausyiah Aa Gym di Masjid Agung An-Nur Pekanbaru.
• 25 Mei 2008 MC pada acara ‘Dialog Pakar Enterpreneurship’ yang ditaja KAMMI Daerah Riau di Balai Pelatihan Tanaman Pangan (BPTP) Pekanbaru. Menghadirkan Basrizal Koto.
• 1 Juni 2008 diamanahkan sebagai ketua umum Forum Lingkar Pena Wilayah Riau.
• 16-17 Juni 2008 mengikuti pelatihan penulisan puisi & cerpen yang ditaja Dinas Kebudayaan & Pariwisata Riau, bertempat di Taman Budaya Provinsi Riau. Pembicara Ahmadun Y.H (puisi) Redaktur sastra Republika & Raudal Tanjung Banua (cerpen) sastrawan Yogyakarta.
• 6 Juli 2008 juara 2 lomba pidato tingkat kecamatan Tampan, yang ditaja KNPI & JPRMI.
• 12-13 Juli 2008 mengikuti pelatihan jurnalistik tingkat lanjut yang ditaja LPM Gagasan UIN Suska Riau.
• 11-13 Juli 2008 mengikuti silaturrahmi Nasional FLP, bertempat di PPPPTK Jakarta. Dari Riau Wamdi, Bambang, Herleni dan Satri.
• 15 Juli 2008 mabit di Pon-Pes Darut Tauhid (Pesantren Aa Gym) Bandung.
• 22 Juli 2008 menghadiri bedah buku ‘Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia’ karya Ishak Rafick, yang ditaja Garda Kemerdekaan Bandung (GKB), bertempat di aula utama sejarah, Bandung.
• 23-27 Juli 2008 mengikuti Dauroh Marhalah 2 KAMMI, diselenggarakan oleh KAMMI Daerah Bandung, bertempat di Pon-Pes Asy-Syifa’ di kabupaten Subang Jawa Barat.
• 1 Agustus 2008 silaturrahim ke redaksi majalah Tarbawi, Jakarta.
• 15 Agustus 2008 narasumber bersama Hendra (presma UNRI) pada dialog ‘Politisi Busuk’ di Radio Barnabas FM, Pekanbaru.
• 24 Agustus 2008 pelantikan pengurus FLP wilayah Riau oleh Al-Azhar (Dewan Pembina FLP Riau) di Galery Ibrahim Sattah, Pekanbaru.
• 28 Agustus 2008 menghadiri seminar nasional & se-abad Sutan Takdir Alisjahbana (STA) yang ditaja HMJ Bahasa Indonesia FKIP Unri.
• 3 September 2008 menghadiri bedah buku ‘Selamatkan Indonesia’ bersama penulisnya M. Amin Rais, di Universitas Muhammadiyah Riau (Umri).
• 4-8 September 2008 penelitian tingkat partisipasi masyarakat dalam Pilgubri, tempat kecamatan Kabun & Tandun kabupaten Rokan Hulu Riau.
• 9 September 2008 santapan Ramadhan di masjid Arfaunnas Unri.
• 11 September 2008 buka bersama teman-teman Buletin Ar-Royan Unri & santapan Ramadhan di masjid Darul Amal Buluh Cina Pekanbaru.
• 14 September 2008 moderator pada dialog akademik ‘Islamisasi Ilmu Pengetahuan & Teknologi’ yang ditaja FKII Asy-Syam UIN Suska. Pembicara Frof. Dr. Nazir Karim (Rektor UIN Suska Riau) & Edy Rusdi (Presma UIN Suska).
• 15-16 September 2008 mengikuti traning ISQ di hotel Indrayani Pekanbaru.
• 17 September 2008 pemateri ‘Urgensi Dakwah Kampus’ yang ditaja Forum Kajian Mahasiswa Syariah (FK Masya) UIN Suska Riau.
• 18 September 2008 menghadiri launcing buku kumpulan puisi ‘Menuju Ruang Kosong, Menjemput Firman’ karya Taufik Effendi Aria, bertempat di hotel Indah Graha Pekanbaru.
• 20 September 2008 buka bersama teman-teman FLP di masjid Munawwarah Universitas Islam Riau (UIR).
• 25 September 2008 santapan Ramadhan di Lubuk Bendahara, Rokan Hulu.
• 27 September 2008 buka bersama alumni Pon-Pes Darussalam Rokan Hulu, di rumah pimpinan Pesantren (H. Alaidin Aidarus Ghani).
• 29 September 2008 buka bersama teman-teman pelajar, mahasiswa & tokoh masyarakat di kampung (Tanjung Medan) Rokan Hulu.
• 1 Oktober 2008 khotbah Idul Fitri di kampung.
• 9 Oktober 2008 silaturrahim menemui ketua PGRI Riau (Drs Isjoni) & Rektor UIN Suska Riau (Frof. Dr M. Nazir Karim).
• 26 Oktober 2008 moderator pada acara Open House KAMMI komisariat UIN Suska Riau ‘Optimalisasi Peran mahasiswa Dalam Membangun Bangsa’ di hotel Mona Plaza. Pembicara Johar Firdaus (Ketua DPRD Riau), Frof. Dr M. Nazir Karim (Rektor UIN Suska Riau).
• 6-9 November 2008 Master Of Traning (MOT) pada Dauroh Marhalah 1 KAMMI komisariat UIN Suska Riau.
• 10 November 2008 moderator bedah buku ‘Mencari Pahlawan Indonesia’ karya M. Anis Matta. Ditaja oleh Dewan Mahasiswa (Dema) UIN Suska Riau di PKM. Pembicara Drh. Khaidir (tokoh masyarakat Riau) & Edy Syahrizal (mantan ketua umum KAMMI daerah Riau).
• 16 November 2008 pemateri ‘Menajmen Organisasi’ di MAN 1 Pekanbaru.
• 4-5 Desember 2008 rihlah ke Bukit Tinggi bersama teman-teman LKP Sospolbud (Lembaga Kajian Pendidikan, Sosial, Politik dan Budaya) Provinsi Riau.
• 6 Desember 2008 menghadiri seminar yang ditaja ICMI Riau di hotel Pangeran, Pekanbaru.
• 19 Desember 2008 khatib di PKM UIN Suska Riau.
• 20 Desember 2008 juara 1 lomba resensi buku tingkat mahasiswa, yang ditaja Perpustakaan Soeman HS Provinsi Riau. Buku yang diresensi ‘Laskar Pelangi’.

Read More......